Yaqin Saja

Sunday, July 11, 2004

Pun Hujan Terbaca pada Angin Diam

pada kilat cahaya kesekian
pun hujan terbaca pada angin diam
menggenang pada lorong-lorong hitam rambutmu
yang dititi bayangan menyusur memanjang
tanpa kata-kata, kata-kata nanti akan jadi rindu
yang menyulam benang-benang rinai
menjadi bunga-bunga sepi bermekaran
suatu kali, semoga masih berkilat cahaya di sini
pada hujan yang terbaca pada angin diam
saat bayangan menyusur sepanjang rambutmu
sirna oleh jarak dan kata-kata mengelopak
dalam genangan yang telah mengkristal jadi kenangan

Malang, 11 Juli 2004

Tuesday, July 06, 2004

Sajak Gelap

wedee... kite mah!
bocah jing
kaye mengkonon kelakuanane
emboke dewek digerayangi

bocah bedun!

Malang, 06.07.2004

Sajak Kosong

horeee… kecele!

bagor lu!
sapa yang ngambil?!

Malang, 05.07.2004

Sajak Isi

aduh!!!
sapa di dalem?!
buruaaan!
kebelet beneran nih!
gak tahan lagi!
sakit perut gue!
BURUAAANNN…!
haaaaaa……

Malang, 05.07.2004

Monday, July 05, 2004

Mengenang Painah

Nah, Painah…
cah ayu tempe benguk ra payu
yen ing tawang ono lintang
o, Painah! aku ngenteni turumu
untuk meraba lehermu
tapi sebenarnya aku mau ngambil kalungmu

Nah, Painah…
cah ayu tempe benguk ra payu
aku ngenteni turumu, Painah!
tapi kok kamu ndak turu-turu
malah sebentar mesem
sebentar kamu ngguyu

mantra aji penyirep. yang bisa bikin
kamu tertidur mengkurep
bolak-balik sudah kubaca
malah sampai ndremimil membacanya
tapi akhirnya, malah aku sendiri
yang kena sirep

Nah, Painah…
ing ngisor jendela kamarmu
ngenteni turumu
untuk ngambil kalungmu
akhirnya malah aku yang keturon

: sialan!

Malang, 05.07.2004

Munafik

menulis sajak religius
sambil mendekap lonte

menulis sajak religius
sambil mendekap gigolo

Malang, 04.07.2004

Tidak Munafik

saya tidak munafik
saya akui memang saya sering zina
karena saya suka zina

daripada kamu
munafik! kotbah anti-zina
diam-diam sering berzina

(kata Yu Paijem: yang munafik
maupun yang tidak munafik
samanya dosanya, Anakku)

Malang, 04.07.2004

Dunia

tempat pahala pahit rasanya
tempat dosa melebihi madu rasanya

(di mulut batin Pak Arjo Kepruk)

Malang, 04.07.2004

Dusta

(1)
dusta selalu berusaha menyiasati
tapi tak pernah bisa berhasil
sampai kini, dusta tetap merugikan diri sendiri
karena kamu terlanjur mengerti

(2)
jika iblis telah menyatu darah dan daging
jangankan manusia, Allah pun jadi permen karet

Malang, 03.07.2004

Friday, June 25, 2004

Surat kepada X

Kawan, bagaimana bisa aku menahan diri dari punya opini bahwa dirimu adalah kritikus cabul & benci Tuhan? Karya-karya begitu sesak kata vulgar pembangkit syahwat liar pendukung pergaulan bebas selalu kau beri aplaus: bagus, selalu kau bilang karya heibat, bahkan kau bilang dahsyat, karena berisi keberanian dan pemberontakan habis-habisan. Sementara karya yang tak seperti itu, apalagi yang mengagungkan Tuhan, yang mengajak kembali ke jalan Tuhan, sering sudah kau bilang jelek sebelum kau selesai membacanya (apalagi sampai paham benar isinya), lalu kau campakkan di kotak sampah setelah kau remas-remas dengan amat gemas.

Ada yang mencemaskan, Kawan. Andai saja semua kritikus sastra seperti dirimu, dan semua sastrawan gila popularitas gila sanjungan dan tepuk tangan, dapat dibayangkan negeri ini bakal kebanjiran karya sastra vulgar yang semakin vulgar. Sebab, karya-karya yang njijiki dan nggilani seperti itulah yang dianggap bagus oleh kritikus. Karena menurut kritikus itu karya bagus, masyarakat pun akan mengejar karya-karya itu. Dan bisa jadi tak ada lagi karya yang tidak vulgar, apalagi yang religius, karena karya yang religius dibenci oleh para kritikus dan tidak dianggap karya sastra sehingga penulisnya tak berhak disebut sastrawan. Karya seperti itu akan semakin tak laku dan akhirnya lenyap karena tidak dituliskan, lebih-lebih masyarakat memang sudah terbius oleh budaya setan yang sebenarnya harus mereka lawan.

Tapi, Kawan, silakan. Kau punya hak memberi penilaian sesuai dengan selera estetismu. Juga kau punya hak memberi penilaian atas karya sastra berdasarkan nafsu birahimu. Juga kau punya hak memberi penilaian atas karya sastra berdasarkan klaim-klaim dan opini-opini setan yang memang sekuat tenaga berusaha menjauhkan manusia dari Tuhannya, bahkan berusaha membuat manusia membenci Tuhannya, karena itu memang tekad setan-iblis sejak ia diusir Tuhan dari surga karena pembangkangannya.

Tak ada orang lain yang bisa melarang ataupun menahan dirimu untuk punya penilaian seperti itu. Tak ada yang bisa melarang, seperti juga kau tak bisa menahanku untuk punya opini bahwa dirimu adalah kritikus cabul & benci Tuhan. Aku sudah coba menahan diri, tapi itulah opiniku, Kawan. Opini sejujurnya. Maafkan.

Malang, Juni 2004