Surat kepada X
Kawan, bagaimana bisa aku menahan diri dari punya opini bahwa dirimu adalah kritikus cabul & benci Tuhan? Karya-karya begitu sesak kata vulgar pembangkit syahwat liar pendukung pergaulan bebas selalu kau beri aplaus: bagus, selalu kau bilang karya heibat, bahkan kau bilang dahsyat, karena berisi keberanian dan pemberontakan habis-habisan. Sementara karya yang tak seperti itu, apalagi yang mengagungkan Tuhan, yang mengajak kembali ke jalan Tuhan, sering sudah kau bilang jelek sebelum kau selesai membacanya (apalagi sampai paham benar isinya), lalu kau campakkan di kotak sampah setelah kau remas-remas dengan amat gemas.
Ada yang mencemaskan, Kawan. Andai saja semua kritikus sastra seperti dirimu, dan semua sastrawan gila popularitas gila sanjungan dan tepuk tangan, dapat dibayangkan negeri ini bakal kebanjiran karya sastra vulgar yang semakin vulgar. Sebab, karya-karya yang njijiki dan nggilani seperti itulah yang dianggap bagus oleh kritikus. Karena menurut kritikus itu karya bagus, masyarakat pun akan mengejar karya-karya itu. Dan bisa jadi tak ada lagi karya yang tidak vulgar, apalagi yang religius, karena karya yang religius dibenci oleh para kritikus dan tidak dianggap karya sastra sehingga penulisnya tak berhak disebut sastrawan. Karya seperti itu akan semakin tak laku dan akhirnya lenyap karena tidak dituliskan, lebih-lebih masyarakat memang sudah terbius oleh budaya setan yang sebenarnya harus mereka lawan.
Tapi, Kawan, silakan. Kau punya hak memberi penilaian sesuai dengan selera estetismu. Juga kau punya hak memberi penilaian atas karya sastra berdasarkan nafsu birahimu. Juga kau punya hak memberi penilaian atas karya sastra berdasarkan klaim-klaim dan opini-opini setan yang memang sekuat tenaga berusaha menjauhkan manusia dari Tuhannya, bahkan berusaha membuat manusia membenci Tuhannya, karena itu memang tekad setan-iblis sejak ia diusir Tuhan dari surga karena pembangkangannya.
Tak ada orang lain yang bisa melarang ataupun menahan dirimu untuk punya penilaian seperti itu. Tak ada yang bisa melarang, seperti juga kau tak bisa menahanku untuk punya opini bahwa dirimu adalah kritikus cabul & benci Tuhan. Aku sudah coba menahan diri, tapi itulah opiniku, Kawan. Opini sejujurnya. Maafkan.
Malang, Juni 2004
Ada yang mencemaskan, Kawan. Andai saja semua kritikus sastra seperti dirimu, dan semua sastrawan gila popularitas gila sanjungan dan tepuk tangan, dapat dibayangkan negeri ini bakal kebanjiran karya sastra vulgar yang semakin vulgar. Sebab, karya-karya yang njijiki dan nggilani seperti itulah yang dianggap bagus oleh kritikus. Karena menurut kritikus itu karya bagus, masyarakat pun akan mengejar karya-karya itu. Dan bisa jadi tak ada lagi karya yang tidak vulgar, apalagi yang religius, karena karya yang religius dibenci oleh para kritikus dan tidak dianggap karya sastra sehingga penulisnya tak berhak disebut sastrawan. Karya seperti itu akan semakin tak laku dan akhirnya lenyap karena tidak dituliskan, lebih-lebih masyarakat memang sudah terbius oleh budaya setan yang sebenarnya harus mereka lawan.
Tapi, Kawan, silakan. Kau punya hak memberi penilaian sesuai dengan selera estetismu. Juga kau punya hak memberi penilaian atas karya sastra berdasarkan nafsu birahimu. Juga kau punya hak memberi penilaian atas karya sastra berdasarkan klaim-klaim dan opini-opini setan yang memang sekuat tenaga berusaha menjauhkan manusia dari Tuhannya, bahkan berusaha membuat manusia membenci Tuhannya, karena itu memang tekad setan-iblis sejak ia diusir Tuhan dari surga karena pembangkangannya.
Tak ada orang lain yang bisa melarang ataupun menahan dirimu untuk punya penilaian seperti itu. Tak ada yang bisa melarang, seperti juga kau tak bisa menahanku untuk punya opini bahwa dirimu adalah kritikus cabul & benci Tuhan. Aku sudah coba menahan diri, tapi itulah opiniku, Kawan. Opini sejujurnya. Maafkan.
Malang, Juni 2004

0 Comments:
Post a Comment
<< Home